Rabu, 01 Agustus 2012

Kotamobagu dan Dunia Pendidikan

Selalu saja ada persoalan seperti ini di Bolaang Mongondow. Daerah adat dan memiliki sejarah manis dikuasai 4 daerah eks swapradja ini, kini menjadi 5 kabupaten/kota, pasca dimekarkan dari induknya terdahulu yakni Kabupaten Bolaang Mongondow. Paling sentral dunia pendidikan, banyak kejadian aneh dan seharusnya tidak perlu terjadi, semisal proyek pembangunan ruang kelas belajar di SMK Pertanian Kotamobagu. Berikut berita disadur dari kontraonline.com, situs berita lokal di daerah ini.

Pemilik toko Ajam Jaya akhirnya menyegel delapan ruang belajar sekolah menengah kejuruan (SMK) Pertanian Kota Kotambagu karena pihak kontraktro yang tidak lain mantan Kepala sekolah Nasir Katong , ternyata masih menunggak hutang sebanyak 100 juta rupiah dari pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Penyegelan itu dilakukan karena pemilik toko merasa keberatan karena bangunan yang sudah selesai dikerjakaan namun bahan yang diambil oleh Nasir di toko mereka belum juga dilunasi.
Kepsek SMK Pertanian Jasmani Amonto saat ditemui kontraonline rabu (01/08/2012) mengatakan tidak terlalu tahu persis dengan persoalan tersebut. Karena dia mengaku baru menjabat sebagi Kepsek menggantikan Nasir Katong.
“Kalau masalah tersebut saya kurang tahu. Karena pekerjaan itu masih ditangani oleh kepsek lama,”kata Jasmani.
Namun sedikit dia menjelaskan, bahwa persoalan tersebut sudah akan diselesaikan antara pemilik toko dengan mantan Kepsek bahkan kita sudah bermohon kepada pemilik toko katanya.
Selain itu terkait dengan penyegelan, para siswa terpaksa harus menggunakan ruang belajar yang tua. Karena ruang belajar yang baru masih tersegel balok.
“ Pokoknya sebelum bulan puasa sudah disegel ruangan ini,”ucap sejumlah siswa.
Sementara itu, Nasir Katong saat ditemui mengaku jika persoalan penyegelan itu dikarenakan dia masih terhutang sebanyak 100 juta rupiah.
“ Benar saya masih ada hutang kepada pemilik took 100 juta.Dan itu akan selesaikan secara pribadi dengan pemilik took,”ucap Nasir dengan wajah gugup kepada sejumlah wartawan.
Dia mengatakan dana untuk pekerjaan bangunan itu merupakan dana bantuan dari pemerintah pusat melalui dana APBN. Dana tersebut dikucurkan pada 2010 lalu dan dia sendiri yang melaksanakan pekerjaan tersebut.
“ Dana yang diberikan pemerintah pusat sebanyak 690 juta dan sudah selesai dikerjakan. Masalah hutang tinggal saya dan pemilik toko yang akan menyelesaikannya,” terangnya.
Berdasarkan informasi yang didapat pekerjaan untuk bangunan sekolah hanya memakan dana sebesar 400 juta. Namun anehnya Nasir masih saja menunggak hutang sebanyak 100 juta itupun sudah ditunggu oleh pemilik toko dari 2011 lalu. *