Kita telah menyaksikan betapa buruknya kehidupan politik manakala
para politisi terjebak dalam kedangkalan urusan. Membawa bersama pikiran
mereka yang busuk penafsiran akan kekuasaan sebagai bagian tak
terpisahkan dari tipu daya. Membentuk opini dan melakonkan pola yang
telah membuat masyarakat banyak terseret dalam pemahaman akan politik
sebagai urusan dangkal sekian orang dalam meniatkan, membicarakan dan
menindaki kekuasaan.
Tidak ada yang akan ragu bahwa kita
membutuhkan politisi yang dapat memandang jauh melampaui kekuasaan.
Pandangan yang jauh ini membutuhkan, tentu saja, pemahaman akan
kekuasaan yang lebih dari sekedar awam. Persoalannya, di masa sekarang
hanya ada terlalu sedikit politisi yang memiliki pandangan atas
kekuasaan yang melampaui taraf awam.
Manakala kekuasaan dipahami
tanpa ruang bagi pencapaian kebenaran politik, kekuasaan akan tinggal
menjadi matematika. Dan kebenaran yang diproduksi dari politik sebagai
matematika tidak akan lebih dari urusan sedikit atau banyak, urusan
tambah atau kurang. Politik seperti ini akan selalu terjerembab dalam
kedangkalan urusan hitung menghitung dan, seperti yang sekarang kerap
kita saksikan, politisi hanya menjadi penghitung pendapatan kekuasaan.
Dalam
bingkai seperti ini maka para politisi akan menjadi orang-orang hebat
dalam urusan hitung menghitung. Hitung menghitung suara pendukung dan
penentang. Hitung menghitung jatah uang dan jabatan yang akan diperoleh
dan yang harus dibagi. Hitung menghitung langkah yang mau, mesti dan
mungkin untuk diambil. Hitung menghitung pesona yang akan ditebar. Dan,
pada akhirnya, hitung menghitung nasib yang terus berubah dalam waktu
yang tidak pernah mampu mereka siasati dengan angka-angka yang begitu
mereka dewa-dewakan itu. Masalahnya, sebagai matematika, politik tidak
hanya keliru tapi juga busuk.
Karenanya menjadi kebutuhan bagi
kita untuk mengembalikan politik kepada pengertiannya yang sebenarnya.
Melepaskannya dari kedangkalan urusan dengan pemahaman. Menunjuk ulang
fungsinya sebagai pemberi makna ucapan dan tindakan manusia sebagai
makhluk bebas dalam masyarakat yang majemuk. Politik, sebagai proyek,
adalah upaya yang bersifat emansipatoris, bukan kelicikan dan persoalan
jabatan.
Tiga Sisi Kebenaran Politik
Melampaui
kekuasaan, politik sesungguhnya adalah tema bagi kebenaran manakala
manusia dipahami dalam kemajemukannya. Pemahaman (teoritis maupun
praktis) yang memusarkan politik pada kekuasaan justru adalah kekeliruan
(teoritis maupun praktis) yang mengandaskan politik pada kecanggihan
tipu daya. Urusan politik lantas menjauh sepenuhnya dari kebenaran. Atau
kekuasaan dipandang lepas dari kebenaran politik atau kebenaran politik
dipandang subsisten terhadap kekuasaan.
Secara filosofis,
kekuasaan sebagai tema bagi politik tidak harus diartikan sebagai,
pertama, makna bagi gagasan politik atau sebagai, kedua, cara bagi
tindakan politik atau sebagai, ketiga, tujuan bagi hubungan politik.
Lebih dari itu, kekuasaan hanyalah bayang-bayang bagi gagasan, tindakan
dan hubungan politik ketika kebenaran menjadi acuan bagi makna, cara dan
tujuan politik.
Kebenaran dalam politik adalah kedaulatan (ketika
kita membicarakan politik dalam ontologi kekuasaan), keadilan (ketika
kita membicarakan politik dalam epistemologi kekuasaan), dan kebebasan
(ketika kita membicarakan politik dalam aksiologi kekuasaan).
Mencengangkan bahwa hanya ada terlalu sedikit politisi yang sadar
terhadap pemahaman seperti ini.
Kedaulatan adalah kebenaran yang
selalu bersifat urgen bagi politik manakala kita harus menjawab apa itu
kekuasaan. Dalam pemahaman ini, kekuasaan adalah kedaulatan. Dan ketika
kedaulatan dipahami sebagai lokus politis maka paradigma demos kratos
menunjuk rakyat sebagai penentu hunian kedaulatan tersebut. Para
politisi yang memegang kekuasaan adalah orang-orang yang dipilih rakyat
untuk mengisi ruang kedaulatan tersebut.
Tempat rakyat dalam
kedaulatan senantiasa kosong, kata filsuf politik Claude Lefort. Ruang
itu kosong karena rakyat tidak dapat dinamai. Artinya, secara fisik,
rakyat tidak mengisi posisi kedaulatan itu. Dengan demikian, mekanisme
bagi kebenaran politik seperti ini membuat rakyat berada dalam posisi
untuk mengisi ruang kedaulatan tersebut dengan orang-orang yang mereka
pilih. Serta mengosongkannya kembali manakala yang dipilih tidak lagi
dipandang sanggup untuk memenuhi harapan rakyat. Formalitas demokrasi
hanyalah sebuah cara dari apa yang lebih substansial bagi konsepsi ini,
yaitu hak penuh rakyat atas kedaulatan.
Sedangkan berbicara
tentang keadilan sebagai epistemologi kekuasaan memiliki maksud untuk
menunjukkan bahwa segala bentuk tindakan politik hakikinya tidak bisa
direferensikan secara kasar pada kekuasaan itu sendiri. Jauh dari itu,
kekuasaan malahan hanya absah diinisiasi dalam bingkai keadilan. Tidak
ada satupun tindakan politik yang dapat dianggap memuat kebenaran
apabila dijalankan di luar terma-terma keadilan. Menjalankan kekuasaan,
dalam konsepsi ini, berarti bertindak dalam keadilan.
Keadilan
mengasumsikan kesetaraan, sedangkan kesetaraan mensyaratkan dialog. Dan
dialog, kita tahu, membutuhkan argumentasi. Maka tanda dari laku
kekuasaan yang memuat keadilan akan bisa kita saksikan dalam setiap
tindakan politik yang memberi harga pada dialog yang dipenuhi
argumentasi. Hilangnya argumentasi berarti lenyapnya dialog dan
lenyapnya dialog berarti sirnanya tindakan politik yang berkeadilan.
Kekerasan politik, termasuk ancam mengancam dan caci maki serta sikap
ngotot pada kebenaran sendiri jelas bukanlah jenis dari tindak keadilan
dalam berpolitik.
Pada akhirnya harus kita sadari bahwa dalam
hubungan-hubungan politik yang tercipta dari gagasan dan tindakan
politik tersingkap tujuan yang sesungguhnya bagi segala agenda dan
proyek politik, yaitu kebebasan. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk
membuat proposal politik yang tidak berakhir dalam upaya memperlega
ruang kebebasan. Kemajemukan sebagai tafsir atas ruang publik tempat
politik menjadi kemungkinan bagi gagasan, tindakan dan hubungan, hanya
akan memiliki maknanya dalam kebebasan dari setiap warga, baik secara
individual maupun secara sosial untuk membuat pilihan.
Demikian
juga, politik harus membebaskan. Sebegitu rupa sehingga kita hanya bisa
memahami rasionalitas tujuan politik dalam segala upaya pembebasan. Jika
di ujung koridor politik rakyat tidak menemukan kebebasan mereka maka
para politisi harus berhenti berpolitik, dan pada saat itu, politik
boleh berubah menjadi emansipasi total yang dalam kosa kata radikal bisa
berarti revolusi.
Kebebasan hanya diandaikan ada dan menjadi
tujuan politik dalam hubungan-hubungan yang bertujuan. Hubungan-hubungan
itu mengandaikan, sekaligus menuju pada, kebebasan. Hubungan-hubungan
itu adalah penciptaan kebebasan secara sadar dengan para politisi
sebagai propagandis serta praktisi kebebasan. Kurang dari itu, kita akan
menyaksikan melulu kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri.
Kebebasan
sebagai tujuan kekuasaan dari hubungan-hubungan politik tercipta dalam
praktek politik itu sendiri. Sementara praktek politik hanya akan
menemukan kebenarannya jika dilakoni sebagai praktek pembebasan. Praktek
itu juga selalu menuju pada penghargaan akan kebebasan setiap orang.
Ketika satu dan lain pihak dalam ruang politik dapat saling membebaskan,
maka tujuan dari hubungan politik tersebut relatif sudah bisa dianggap
terpenuhi.
Mengembalikan Kebenaran Politik
Kebebasan
sebagai kebenaran politik dari tujuan kekuasaan, kita tahu, adalah
prasyarat bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Keadilan yang
menjadi jawaban akan cara kekuasaan ditindaki dalam kebenaran politik
menjadi tulang punggung bagi terpenuhinya kebebasan. Dan kedaulatan yang
terpahami dalam gagasan menjadi pertanda dari termuatinya keadilan.
Ringkasnya dengan gagasan kedaulatan, tindakan keadilan dan hubungan
kebebasan, politik akan bisa kita kembalikan pada jalurnya yang benar
sebagai laku emansipasi untuk membawa maju dan menyejahterakan
masyarakat.
Pokok yang kita temukan dalam spekulasi filosofis
sederhana seperti di atas tidak lain dari pembukaan ruang bagi gagasan,
tindakan dan hubungan politik yang dapat melampaui kekuasaan. Dengan
spekulasi seperti ini, politik akan terbebas dari penjajahan makna awam
yang telah sekian lama mereduksi pengertian politik menjadi sekedar
tekhnik tipu daya. Sebuah pemahaman yang, di satu sisi, menghempaskan
rakyat dalam sebuah sikap anti-politik yang akut. Dan, di sisi lain,
menjerumuskan para politisi ke dalam pemahaman dan cara bertindak yang
dipenuhi dengan kelicikan.
Dalam kondisi semacam ini baik rakyat
awam maupun para politisi, seakan memberikan pembenaran terhadap
tindakan di luar etika umum seperti berbohong, memfitnah, menipu,
mengkhianati dan berbagai tindakan negatif sejenis sebagai kewajaran
dalam berpolitik. Eufemisme memberi kedua belah pihak kosa kata untuk
membenarkan kelancungan moral ini dengan, misalnya, memahami kelicikan
sebagai kecerdasan (politisi licik dianggap cerdas) dan oportunisme
sebagai pragmatisme (bertindak oportunis dikatakan pragmatis).
Lalu
kita bersama-sama mengeluhkan, bahkan menangisi, nasib tragis bangsa
ini yang tidak lagi memiliki politisi bermoral (dalam artian ini, kata
bermoral bisa dibaca sama dengan berideologi namun untuk
mengargumentasikan hal ini dibutuhkan tulisan yang lain). Bagaimana kita
bisa menuntut lahirnya politisi bermoral jika rahim bagi bayi-bayi
politisi itu dipenuhi dengan air ketuban imoralitas dan irasionalitas?
Bagaimana kita akan menyaksikan munculnya politisi dengan
prinsip-prinsip tindakan politik emansipatoris jika kita terus
membiarkan pendangkalan makna politik dan terus menolerir munculnya para
politisi tanpa wawasan, gagasan dan tujuan?
Ketidakpedulian yang
sekarang mengharu biru nurani kita sendiri terhadap situasi politik saat
ini sesungguhnya merupakan hasil dari pilihan kita sendiri. Siapakah
yang memilih para politisi busuk itu jika bukan kita sendiri? Mereka
tidak akan pernah menjadi politisi, bahkan di lingkungan RT sekalipun,
jika kita tidak memberi mereka kesempatan. Kitalah yang menginisiasi
orang-orang licik, tamak dan egois itu menjadi politisi dengan
membenarkan kelicikan, ketamakan dan egoisme sebagai kewajaran dalam
berpolitik.
Politik Bagi Bolaang Mongondow
Tampaknya
kita sudah harus berhenti dari lingkaran setan ini. Kembali pada
politik dengan cara mengembalikan makna politik sebagai keluhuran
gagasan, tindakan dan hubungan. Ini bukan sikap idealistis tapi realisme
yang hanya agak terasa pahit karena kita telah terbiasa dengan
pemahaman yang dangkal akan makna politik. Dan di kawasan Bolaang
Mongondow, tragedi seperti ini bukanlah pengecualian.
Ditempatkan
dalam peta kita, Bolaang Mongondow induk dan Bolaang Mongondow Timur
lebih banyak menghadapi persoalan luruhnya kebenaran politik dalam
ontologi kekuasaan. Lalu problem kebenaran politik di daerah Kota
Kotamobagu lebih banyak bertumbuk dengan persoalan epistemologi
kekuasaan. Sedangkan daerah Bolaang Mongondow Selatan dan Bolaang
Mongondow Utara, masih harus mengurai kebenaran politiknya dalam problem
aksiologi kekuasaan.
Artinya, secara keseluruhan, persoalan di
Bolaang Mongondow sebagai persoalan politik adalah persoalan gagasan,
tindakan dan hubungan politik yang masih mempergunakan kekuasaan sebagai
paradigma. Pemahaman akan politik terpapar dalam tindakan politik yang
tidak bisa melampaui persoalan kekuasaan itu sendiri. Cara berpolitik
masih dipenuhi tipu daya dan oportunisme. Tujuan-tujuan politik tidak
pernah jauh dari bayangan ambisi dan ketamakan.
Dalam konteks ini,
kebenaran-kebenaran politik yang jumbuh dengan kedaulatan, keadilan dan
kebebasan masih menjadi bagian yang luput dari agenda politik para
politisi daerah. Entah para politisi yang berada dalam pemerintahan,
dewan rakyat atau di antara keduanya. Ini berarti rakyat Bolaang
Mongondow Raya (baca; aktivis, akademisi, wartawan dan kelompok-kelompok
lain selebihnya) menjadi benar-benar dibutuhkan peringatannya.
Kamis, 02 Agustus 2012
Rabu, 01 Agustus 2012
Kotamobagu dan Dunia Pendidikan
Selalu saja ada persoalan seperti ini di Bolaang Mongondow. Daerah adat dan memiliki sejarah manis dikuasai 4 daerah eks swapradja ini, kini menjadi 5 kabupaten/kota, pasca dimekarkan dari induknya terdahulu yakni Kabupaten Bolaang Mongondow. Paling sentral dunia pendidikan, banyak kejadian aneh dan seharusnya tidak perlu terjadi, semisal proyek pembangunan ruang kelas belajar di SMK Pertanian Kotamobagu. Berikut berita disadur dari kontraonline.com, situs berita lokal di daerah ini.
Pemilik toko Ajam Jaya akhirnya menyegel delapan ruang belajar sekolah menengah kejuruan (SMK) Pertanian Kota Kotambagu karena pihak kontraktro yang tidak lain mantan Kepala sekolah Nasir Katong , ternyata masih menunggak hutang sebanyak 100 juta rupiah dari pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Penyegelan itu dilakukan karena pemilik toko merasa keberatan karena bangunan yang sudah selesai dikerjakaan namun bahan yang diambil oleh Nasir di toko mereka belum juga dilunasi.
Kepsek SMK Pertanian Jasmani Amonto saat ditemui kontraonline rabu (01/08/2012) mengatakan tidak terlalu tahu persis dengan persoalan tersebut. Karena dia mengaku baru menjabat sebagi Kepsek menggantikan Nasir Katong.
“Kalau masalah tersebut saya kurang tahu. Karena pekerjaan itu masih ditangani oleh kepsek lama,”kata Jasmani.Namun sedikit dia menjelaskan, bahwa persoalan tersebut sudah akan diselesaikan antara pemilik toko dengan mantan Kepsek bahkan kita sudah bermohon kepada pemilik toko katanya.
Selain itu terkait dengan penyegelan, para siswa terpaksa harus menggunakan ruang belajar yang tua. Karena ruang belajar yang baru masih tersegel balok.
“ Pokoknya sebelum bulan puasa sudah disegel ruangan ini,”ucap sejumlah siswa.Sementara itu, Nasir Katong saat ditemui mengaku jika persoalan penyegelan itu dikarenakan dia masih terhutang sebanyak 100 juta rupiah.
“ Benar saya masih ada hutang kepada pemilik took 100 juta.Dan itu akan selesaikan secara pribadi dengan pemilik took,”ucap Nasir dengan wajah gugup kepada sejumlah wartawan.Dia mengatakan dana untuk pekerjaan bangunan itu merupakan dana bantuan dari pemerintah pusat melalui dana APBN. Dana tersebut dikucurkan pada 2010 lalu dan dia sendiri yang melaksanakan pekerjaan tersebut.
“ Dana yang diberikan pemerintah pusat sebanyak 690 juta dan sudah selesai dikerjakan. Masalah hutang tinggal saya dan pemilik toko yang akan menyelesaikannya,” terangnya.Berdasarkan informasi yang didapat pekerjaan untuk bangunan sekolah hanya memakan dana sebesar 400 juta. Namun anehnya Nasir masih saja menunggak hutang sebanyak 100 juta itupun sudah ditunggu oleh pemilik toko dari 2011 lalu. *
Langganan:
Komentar (Atom)
